0

 

Ekonomi Indonesia di Era Prabowo: Apa yang Berubah Setelah Hampir Dua Tahun Pemerintahan?



Hampir dua tahun sejak Prabowo Subianto menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, arah kebijakan ekonomi mulai menunjukkan sejumlah perubahan.

Pemerintah tidak hanya mengandalkan konsumsi masyarakat dan ekspor komoditas, tetapi juga berusaha mendorong belanja pemerintah, investasi, hilirisasi, ketahanan pangan, serta pengelolaan aset negara sebagai sumber pertumbuhan baru.

Pertanyaannya, apakah perubahan tersebut benar-benar membuat ekonomi Indonesia semakin kuat?

Jika melihat data terbaru, jawabannya tidak sesederhana "naik" atau "turun".


Pertumbuhan Ekonomi Masih Bertahan di Sekitar 5 Persen

Salah satu indikator paling mudah digunakan untuk melihat kondisi ekonomi adalah pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

Pada triwulan II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year-on-year). Angka tersebut sedikit lebih rendah dibanding pertumbuhan triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen, tetapi tetap menunjukkan ekonomi tumbuh di tengah ketidakpastian global.

Bahkan jika dihitung sepanjang semester I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Artinya, selama hampir dua tahun pemerintahan Prabowo, ekonomi Indonesia masih berada pada pola pertumbuhan sekitar 5 persen.

Namun, ada perubahan penting dalam sumber pertumbuhannya.


Belanja Pemerintah Makin Besar Perannya

Salah satu perubahan yang cukup terlihat adalah meningkatnya peran konsumsi pemerintah dalam pertumbuhan ekonomi.

Pada triwulan II 2026, konsumsi pemerintah tumbuh 15,97 persen secara tahunan, menjadi komponen pengeluaran dengan pertumbuhan tertinggi.

Bank Indonesia menyebut peningkatan tersebut berkaitan dengan percepatan belanja pemerintah, termasuk program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembayaran gaji ke-13 bagi ASN.

Ini menunjukkan bahwa APBN semakin digunakan sebagai salah satu mesin untuk mendorong aktivitas ekonomi.

Ketika pemerintah meningkatkan belanja, uang mengalir ke berbagai sektor seperti:

  • penyedia makanan;
  • transportasi;
  • konstruksi;
  • perdagangan;
  • jasa;
  • hingga pemasok bahan baku.

Namun, ada sisi yang perlu diperhatikan.

Pertumbuhan yang terlalu bergantung pada belanja pemerintah harus diimbangi dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi swasta yang sehat.


Konsumsi Masyarakat Masih Tumbuh, tetapi Perlu Diperkuat

Konsumsi rumah tangga tetap menjadi salah satu penopang utama ekonomi Indonesia.

Pada triwulan II 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh sekitar 5,06 persen. Angka ini masih positif, tetapi lebih rendah dibandingkan pertumbuhan konsumsi pemerintah.

Kondisi tersebut penting karena ekonomi Indonesia sangat bergantung pada aktivitas konsumsi masyarakat.

Ketika masyarakat berbelanja, maka toko mendapatkan omzet, produsen meningkatkan produksi, jasa transportasi bergerak, dan tenaga kerja ikut terserap.

Sebaliknya, jika masyarakat menahan pengeluaran karena khawatir terhadap kondisi ekonomi atau harga kebutuhan, aktivitas bisnis dapat ikut melambat.

Karena itu, daya beli masyarakat menjadi salah satu pekerjaan rumah penting pemerintah.


Investasi Menjadi Salah Satu Andalan Baru

Selain belanja pemerintah, investasi menjadi bagian penting dari strategi ekonomi pemerintahan Prabowo.

Pemerintah melaporkan realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp1.931 triliun dan menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja.

Sementara pada semester I 2026, realisasi investasi mencapai sekitar Rp1.010 triliun dengan penciptaan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja.

Investasi tersebut diarahkan bukan hanya untuk menambah modal, tetapi juga menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Di sinilah kebijakan hilirisasi menjadi penting.


Hilirisasi Makin Didorong

Pemerintah ingin Indonesia tidak hanya menjual bahan mentah ke luar negeri.

Konsepnya sederhana:

bahan mentah → diolah di Indonesia → menjadi produk bernilai lebih tinggi → menciptakan industri dan lapangan kerja.

Pemerintah menyebut investasi dan hilirisasi sebagai salah satu penggerak utama transformasi ekonomi dan kemandirian nasional.

Danantara juga mulai memainkan peran dalam strategi tersebut.

Pada Februari 2026, Danantara meluncurkan enam proyek hilirisasi fase pertama dengan total investasi sekitar US$7 miliar, yang mencakup sektor energi, pangan, mineral, dan logam.

Jika berhasil, hilirisasi dapat memberikan manfaat lebih besar dibanding sekadar mengekspor bahan mentah.

Tetapi proyek-proyek tersebut juga membutuhkan modal besar, teknologi, tenaga kerja berkualitas, dan tata kelola yang baik.


Danantara Mengubah Cara Pemerintah Melihat Aset Negara

Salah satu perubahan yang paling menonjol pada era Prabowo adalah munculnya Danantara Indonesia sebagai instrumen pengelolaan aset dan investasi negara.

Jika sebelumnya aset negara lebih banyak dipandang sebagai kekayaan yang harus dikelola, kini pemerintah ingin aset tersebut juga menjadi mesin investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Danantara memamerkan sejumlah proyek strategis Indonesia dalam World Economic Forum 2026, termasuk proyek yang diarahkan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Namun, keberhasilan Danantara tidak bisa dinilai hanya dari jumlah proyek.

Masyarakat nantinya perlu melihat:

berapa keuntungan yang dihasilkan → berapa lapangan kerja tercipta → berapa nilai tambah di dalam negeri → dan seberapa besar manfaatnya kembali kepada negara.


Inflasi Masih Terkendali, tetapi Harga Pangan Perlu Diperhatikan

Dari sisi harga, kondisi Indonesia masih relatif terkendali.

Inflasi tahunan pada Juni 2026 tercatat 3,34 persen, masih berada dalam kisaran sasaran inflasi pemerintah. Namun, inflasi volatile food atau komponen harga pangan bergejolak mencapai 5,58 persen.

Ini menunjukkan bahwa meskipun inflasi secara keseluruhan masih terkendali, harga pangan tetap menjadi tantangan bagi masyarakat.

Bagi keluarga berpenghasilan rendah, kenaikan harga beras, bawang, kebutuhan pokok, dan makanan sehari-hari dapat langsung memengaruhi kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

Jadi, menjaga inflasi bukan hanya soal angka makroekonomi.

Yang lebih penting adalah apakah masyarakat masih mampu membeli kebutuhan sehari-hari dengan pendapatannya.


APBN Semakin Banyak Digunakan untuk Mendorong Ekonomi

Pemerintahan Prabowo menggunakan APBN sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan sekaligus membiayai program prioritas.

Dalam kerangka ekonomi 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen, dengan fokus antara lain pada pertanian, manufaktur, digital, dan energi.

Strategi ini menunjukkan bahwa pemerintah ingin pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada kondisi global.

Ketika ekspor menghadapi tekanan atau ekonomi dunia melambat, pemerintah berharap permintaan domestik dan belanja negara dapat menjaga aktivitas ekonomi.

Namun, strategi tersebut harus tetap mempertimbangkan kemampuan fiskal.

Semakin besar belanja pemerintah, semakin penting pula memastikan penerimaan negara dan pengelolaan utang tetap sehat.


Tantangan Terbesar: Pertumbuhan Harus Terasa sampai Masyarakat

Angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen tentu merupakan kabar positif.

Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah pertumbuhan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat?

Pertumbuhan ekonomi dapat terlihat dalam angka PDB, tetapi masyarakat biasanya menilainya dari hal yang lebih sederhana:

  • Apakah pekerjaan semakin mudah didapat?
  • Apakah pendapatan meningkat?
  • Apakah harga kebutuhan tetap terjangkau?
  • Apakah UMKM semakin ramai?
  • Apakah investasi membuka lapangan kerja?
  • Apakah industri baru benar-benar menyerap tenaga kerja lokal?

Pemerintah melaporkan tingkat pengangguran turun menjadi 4,68 persen dan sekitar 1,9 juta lapangan kerja tercipta dalam setahun terakhir hingga pertengahan 2026.

Namun, kualitas pekerjaan juga menjadi hal yang penting.

Pekerjaan yang tercipta bukan hanya harus banyak, tetapi juga perlu produktif dan memberikan pendapatan yang layak.


Apa yang Berubah Setelah Hampir Dua Tahun?

Jika dirangkum, beberapa perubahan arah ekonomi pada era Prabowo terlihat cukup jelas.

BidangArah yang Terlihat
Pertumbuhan            Tetap berada di kisaran 5 persen
Belanja pemerintah            Perannya semakin besar sebagai stimulus
Investasi            Terus didorong sebagai mesin pertumbuhan
Hilirisasi            Semakin menjadi prioritas
Aset negara            Didorong lebih aktif melalui Danantara
Pangan            Menjadi perhatian karena memengaruhi inflasi
Lapangan kerja            Terus didorong melalui investasi dan proyek prioritas
APBN            Digunakan lebih aktif untuk mendorong ekonomi

Dengan kata lain, ekonomi Indonesia di era Prabowo tidak berubah secara drastis dalam angka pertumbuhannya, tetapi strategi untuk mencapai pertumbuhan tersebut mulai bergeser.

Pemerintah semakin mengandalkan kombinasi belanja negara, investasi, hilirisasi, program sosial, dan pengelolaan aset negara.


Lalu, Apakah Ekonomi Indonesia Sudah Lebih Kuat?

Jawabannya masih perlu dilihat dari beberapa sisi.

Dari sisi pertumbuhan: cukup positif. Ekonomi tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026 dan semester I tumbuh 5,45 persen.

Dari sisi investasi: juga menunjukkan perkembangan positif dengan realisasi investasi Rp1.010 triliun pada semester I 2026.

Dari sisi inflasi: masih terkendali, tetapi tekanan harga pangan tetap perlu diperhatikan.

Dari sisi konsumsi: masih tumbuh, tetapi perlu terus diperkuat agar pertumbuhan tidak terlalu bergantung pada belanja pemerintah.

Jadi, ekonomi Indonesia belum bisa disebut mengalami perubahan total.

Namun, arah kebijakannya memang mulai terlihat berbeda.


Kesimpulan

Hampir dua tahun pemerintahan Prabowo menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh di tengah ketidakpastian global.

Pertumbuhan ekonomi tetap berada di sekitar 5 persen, investasi meningkat, hilirisasi semakin didorong, dan APBN digunakan lebih aktif untuk menggerakkan ekonomi.

Namun, tantangannya juga tidak sedikit.

Pertumbuhan ekonomi harus mampu diterjemahkan menjadi pekerjaan yang lebih baik, pendapatan yang meningkat, harga kebutuhan yang terjangkau, dan kesempatan ekonomi yang lebih merata.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak menghitung keberhasilan ekonomi hanya dari angka PDB.

Mereka akan melihatnya dari isi dompet, harga kebutuhan sehari-hari, peluang kerja, dan seberapa mudah kehidupan ekonomi mereka dijalani.

Jadi, setelah hampir dua tahun, ekonomi Indonesia memang mengalami perubahan arah—tetapi ujian sebenarnya adalah apakah perubahan tersebut mampu membuat pertumbuhan terasa lebih nyata bagi masyarakat.


Posting Komentar Blogger

 
Top